THX ma fre……..

Posted on Januari 17th, 2009 in Daily by syubidubabpap

Finally…….bisa OL lagi…..  (gangguan kesana kemarix jaringan dikantor akhirx berakhir sudah……)

Terima kasih kepada wahai kawan-kawan yang ‘tlah sudi meluangkan secuil waktunya untuk bersenda gurau dan beudakan bersama selama day off kemaren. Akhirnya day off kemaren gak dihabiskan dengan cuman ngendon dirumah aja karena banjuir….jiakakakakakakakaka……

 

Futsal n beudakan akhirnya terealisasi…..cihuyyyyyyyyy………..

 

Thx ma fre sekalian…….matur nuhun……. You’re the best leh…..

 

See U next month……(next day off)

“THE WHO” comeback…..

Posted on Januari 8th, 2009 in Musik by syubidubabpap

 The Who, one of England legendary bands, kabarnya akan segera menggelar konser di West End, London bulan Mei nanti (Langkah ini mungkin diinspirasi oleh kesuksesan Queen dan ABBA yang juga menggelar konser serupa kali ye……)

Band yang mengawali
penampilannya pada 1964 dan kemudian tumbuh menjadi grup sukses dunia.
Sebelumnya, grup tersebut juga pernah memiliki nama The Detours dan The High Numbers, sebelum berubah menjadi The Who.

Personel The Who semula terdiri atas, Pete Townshend, Roger Daltrey, John Entwistle dan Keith Moon, Keith Moon (1964-1978). Namun kini personel pendirinya tinggal Pete Townshend dan Roger Daltrey, setelah lainnya meninggal dunia.

Selain itu, The Who juga pernah diperkuat oleh Kenney
Jones, John “Rabbit” Bundrick, Pino Palladino, Zak Starkey, Simon
Townshend, Jon Carin, Simon Phillips, Doug Sandom, Colin Dawson
dan Brian Kehew.

Album The Who, di antaranya My Generation, A Quick One,
The Who Sell Out, Tommy, Who’s Next, Quadrophenia, The Who by Numbers,
Who Are You, Face Dances, It’s Hard
dan Endless Wire. Selain itu juga puluhan album kompilasi berikut single suksesnya, yang hingga kini masih dikenang sebagai legenda musik dunia.

Nah kita tunggu aja show timenya…….kira-kira ada lagi gak ya band legend yang berbuat serupa di taon ini?

3 days countdown to peradaban……

Posted on Januari 6th, 2009 in Daily by syubidubabpap

Hari nie H (-3)  menjelang menuju ke peradaban,,,,kekekekekekeke

Aq akan segera cabut dulu dari utan ini SEMENTARA WAKTU (walopun cuman sebentar coz 5 hari doang off eh….)

Waktu yang singkat sekali ya untuk menjadi manusia yang kembali ke peradaban.

Mencoba menggunakan waktu yang  ada nantinya dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat. (Futsal!!!!!!!!!!! Ngeband!!!!!! Hangging out!!!!!!!Kapan datang padaku….hiks…hiks…hiks…….)

 

Mencoba kembali bersosialisasi dengan keluarga dan sahabat serta gak sabar buat ketemu sama si ehm….ehm…  setelah gak ketemu 1 bulan lamax….(kekekekekekekeke…baru juga 1 bulan eui……)

 

Ich liebe mein familien und freund (udah bener gak ya bahasa jermannya “Aku cinta kelurga dan teman” itu gtu ya?)

 

Kira-kira apakah peradaban yang akan kudatangi ini bakal terendam aer seperti bulan lalu ya? (masa tiap off balik ke rumah banjir terus….haeh…haeh……..)

 

Tinggal tunggu n diliat aja leh……tunggu tanggal maenx aja dah…klo banjir ya artinya banyak aer jerrrrr…….kekekekekekekekekeekekekekeke…….

syarat utama ngeblog……

Posted on Januari 4th, 2009 in Komplikasi by syubidubabpap

bro…n sis…..

yang have to do waktu ngeblog klo gak salah sich ini…….

1. Punya mata yang bisa ngeliat..(aseli……)

2. Bisa baca n tulis (gak buta huruf leh…..)

3. Punya jari yang bisa digunain untuk mengetik….( penting!!!)

4. Kompie ato notebook yang memiliki akses internet….

5. Men sana en corporesano…..(ELU KESANA GUE KESONO…)

 

huehuehuehuehuehuehuee……ada yang mo nambahin?????

 

Sepotong…….. dari terminal

Posted on Januari 1st, 2009 in pengalaman by syubidubabpap

Mas pengasong        : “aer mineralnya mas…? permen? rokok? buat di bus….”

Syubidubabpap       : (Numpang denger……)

Musafir                        : “Oya bang, A*** nya ada gak?”

Mas pengasong         : “Ada mas…. sing botol tanggung ato gedi mas?” (klo dari logatx sich ada keturunan indo jawa nich mas pengasong…hueheuehuhe)

Musafir                        : “hmmm….yang tanggung aja satu”

Syubidubabpap        : (Numpang denger lagi……)

Mas pengasong         : “iki mas….. Rp ****** ….”

Musafir                        : “well…nie uangx bang…”

Mas pengasong         : “Waduh gedi tenan rek…..ora ono kembaliane mas…”

Musafir                        : “ya udah, tambahin rokok trus sisax permen aja dah……”

Syubidubabpap       : (Lagi- lagi Numpang denger……)

Mas pengasong        : “iki mas….suwun yo…”

Musafir                       : “yup…sama-sama……oya bang boleh nanya gak?” (kyax nie musafir mo habisin waktu nunggu bis berangkat dengan ngobrol dengan mas pengasong)

Mas pengasong        : “ooo…boleh aja tho mas…mas…..”

Syubidubabpap       : (Numpang denger dengan seksama……)

Musafir                        : “Penghasilan sehari-hari kira-kira berapa bang klo jualan gini?”

Mas pengasong         : “Alhamdulillah mas…… cukup lah buat hidup sehari-hari, ibarat kata mas, daripada kerja jauh-jauh dari rumah dengan penghasilan yang lumayan gede, ya mendingan lah kerja disini aj di kampung halaman….. biar pendapatan kecil yang penting bisa kerja dan hidup bersama dengan keluarga dan teman disini mas……..”

Musafir                        : “Ooooo…gtu ya bang……….”

Syubidubabpap        : (Dheggg……..dhegg…….dheg…….. sambil tarik nafas dalam-dalam…..) “haeh…haeh…………..haeh……………….”

War is Raw….. Haruskah dilakukan?

Posted on Desember 30th, 2008 in Komplikasi by syubidubabpap

Sabtu lalu, dunia kembali dikejutkan dengan serangan udara dan pembantaian yang dilakukan oleh ISRAEL  di jalur GAZA terhadap penduduk sipil PALESTINA. Sebuah aksi yang menurut saya sangat terkutuk. hanya dalam 2  hari saja aksi yang telah dilakukan telah menewaskan lebih dari 290 orang.

Itu dilakukan terus secara berulang-ulang oleh ISRAEL sejak bertahun-tahun yang lalu.

Entah sampai kapan sebuah perang dapat selesai…. korban sudah banyak berjatuhan.

Hhmmmmm……. apa hanya dengan perang semua masalah dapat diselesaikan dan semua keinginan dan tujuan yang ingin diraih dapat tercapai ya?????

Dunia oh dunia……..

“Ada apa dengan Om Benyamin S?”

Posted on Desember 29th, 2008 in Komplikasi by syubidubabpap

bersahaja dan sederhana

Kira-kira ada apa ya….??? huehuehuehue….

Ada Beliau di tulisan ini…….(sekedar mengingatkan klo kita semua pernah punya seorang maestro seni yang tak tergantkan bro….n sis…..)

Gak perlu diragukan lagi sama maestro yang satu ini. “kagak ada matinye….!!!!!!”

Jasad memang sudah terkubur, tapi semangat dan apa yang telah dilakukan Beliau tetap ada dan abadi en tlah menjadi panutan dan inspirasi banyak anak bangsa di endonesa tercinta.

Personal yang intens dengan seni serta budaya leluhurnya ini telah menjadikan seni tradisional Betawi semakin berkembang.

Seorang seniman betawi yang serba bisa. yang mampu menggabungkan akting, lawak, sutradara, n nyanyi dalam satu raga, “benyamin sueb” raga.

Tak kurang dari 75 album musik yang merekam sekitar 300 lagu (berduet dan menyanyi sendiri dalam periode 1964-1992), Benyamin juga menghasilkan sekitar 53 film dari tahun 1970 hingga 1992. Ini belum termasuk sinetron (1994-95).

Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Haj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.

Beliau yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang ditulikannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat mempengaruhi hidupnya.

Andaikata Beliau masih ada, mungkin kira-kira yang pantes untuk jadi Presiden Endonesa berikutnya adalah beliau kali ye….. ato paling kagak Gubernur DKI lah ( eh…jadi presiden juga pantes kok…!!!!!)

Well…. Endonesa rindu dengan sosok entertainer sejati seperti beliau. Sosok budayawan yang menghibur sekaligus mendidik bangsa.

SO……”Wanted: Benyamin Sueb, Biang Kerok!”

AJE GILE…….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Indie secara syubidubabpap…….

Posted on Desember 28th, 2008 in Musik by syubidubabpap

Seperti diketahui, Indie memang berasal dari kata Independent. Namun harus dibedakan antara independen sebagai:

(1) status artis/band atau minor label yang tidak dikuasai/dikendalikan major label

(2) independen dalam konteks indie sebagai subkultur dan genre musik

Untuk pengertian (1),
sejarahnya dimulai sejak awal abad 20 dengan kemunculan minor label
seperti Vocalion atau Black Patti yang kala itu berupaya mengikis
dominasi major label semacam Victor, Edison, dsb. Walaupun independensi
pada pola dan jaman itu tidak menjalin akar dengan pengertian (2),
mereka bertendensi serupa sebagai antitesis mainstream dengan merilis
musik kaum minoritas seperti blues, bluegrass, dsb. Tapi saat itu yang
terjadi sekadar rivalitas antara kapital kecil melawan kapital besar
dan pergerakannya tidak bersifat integral. Lalu di era 50-an mulai
berkembang wacana independen untuk memerdekakan kreativitas dari
intervensi kepentingan industri. Kendati demikian, kondisi yang
tercipta tidak menghasilkan karakter signifikan. Bipolarisasi terhadap
arus utama belum terwujud. Mereka memang berproduksi secara minor tapi
iramanya masih mengacu ke pola major label juga. Walaupun bermotif
kebebasan berekspresi, mereka hanya independen secara kapital dari
major label namun orientasi musiknya tetap setipe major label.

Kecenderungan
awam dalam menyikapi istilah indie adalah menyamaratakan semua yang
independen sebagai “indie”. Dengan demikian itu hanya bertumpu ke unsur
kata (independen) saja sebagai kemerdekaan secara harafiah dan tanpa
batas. Ada
pula yang mempertanyakan “indie” dalam kapasitasnya sebagai kebebasan
mutlak. Padahal independensi dalam wacana (2) sangat berbeda dengan
(1). Artinya istilah indie sesungguhnya masih merujuk ke spesifikasi
tertentu. Indie akan mampu dipahami secara proporsional bila ditelusuri
ke konteks historis atau wacana terjadinya pembentukan istilah itu.
Namun jarang ada media yang mau menggali lebih dalam. Sehingga “indie”
cenderung dikotakkan sebagai musik laris manis yang cocok bagi selera
awam. Sedangkan musik indie sesungguhnya yang underrated malah
diabaikan. Hal semacam itulah yang kerap menimbulkan miskonsepsi publik
bahwa “indie” semata-mata pola kerja dan kemurnian idealisme. Bagaimana
bila sebuah band beridealisme mainstream tapi mereka berproduksi secara
swadaya? Apakah itu termasuk indie? Tentu tidak. Karena independen
secara minor label atau self-released tidak menjamin artis/label itu
berkarakter indie. Karena seseorang yang berjiwa mainstream pun bisa
saja menghasilkan karya berkarakter mainstream tapi dikemas secara Do-It-Yourself dengan dalih kebebasan ekspresi atau budget minim.

Kasusnya seperti gaya rambut suku indian “Mohawk” yang sudah ada sebelum punk. Namun orang cenderung menggeneralisir semua gaya
rambut mohawk sebagai representasi punk. Padahal tidak semua orang yang
berambut mohawk menganut ideologi punk. Demikian pula halnya pada
pemahaman minor label atau self-released yang disetarakan indie,
padahal keduanya bukan parameter mutlak bagi status indie. Oleh karena
itu, perlu ada pembelajaran bagi masyarakat agar mereka tidak latah
terhadap istilah “indie”. Artinya publik patut memahami bahwa segala
sesuatu yang independen belum tentu indie dan indie belum tentu
independen (secara label). Asal
mula kata independent menjadi indie bermula dari tabiat anak-anak muda
Inggris yang suka memotong kata agar mempermudah pelafalan informal
seperti; distribution menjadi distro, british menjadi brit, dsb. Di
balik pemendekan kata independen itu kemudian terkandung sebuah
definisi kontekstual indie yang menjadi basis pergerakan subkultural.
Sehingga sejak masa itu tidak sembarang makna independen secara umum
bisa diasosiasikan dengan indie. Namun hingga kini pun orang awam masih
sering salah paham dengan menyamakan makna indie dalam wacana (2)
dengan independen dalam wacana (1).

Namun seperti uraian di atas, dalam perkembangannya istilah indie mengalami perluasan makna akibat eksploitasi media massa yang menjadikannya rancu. Secara general, definisi indie di Indonesia
cenderung dipublikasikan sebagai pola kerja mandiri semata. Padahal
esensi indie bukan sekadar kemandiriannya saja, namun lebih kepada
Roots-Character-Attitude (RCA) yang bertumpu pada resistensi terhadap
mainstream. Sebagai contoh, The Smiths dan New Order dirilis oleh
Warner Music namun reputasinya masih diakui sebagai band indie karena
RCA mereka adalah indie. Bahkan secara internasional indie diakui
sebagai genre. Itu artinya, ada sebuah konsensus global yang memahami
indie dalam spesifikasi musik tertentu.Lalu
bagaimana menentukan band itu indie atau bukan? Disinilah arti penting
parameter RCA yang telah disebutkan tadi. Guna mendistribusikan rekaman
indie, para scenester (aktivis musik) indie membangun jalur distribusi
di luar sistem mainstream yang kemudian dikenal sebagai distro. Dengan
demikian, indiepop sebenarnya menerapkan unsur-unsur budaya resistensi
punk walaupun para pelakunya tidak berdandan ala punk. Keistimewaan
indie terletak pada jaringan kerjanya. Indie tanpa networking akan
menjadi benteng tanpa prajurit. Dalam relasinya indie cenderung lebih
mengedepankan unsur humanis. Dukungan mutualisme semacam ini sebenarnya
adalah warisan dari 3 dekade silam ketika indie label yang lebih besar
memberi dukungan kepada indie label yang lebih kecil untuk berkembang
lebih pesat tanpa mengawatirkan rivalitas pasar. Indie bergerak kepada
orientasi pendengar yang segmentatif. Kalaupun akhirnya mendapat respon
luas, itu dianggap senagai bonus saja. Faktor penentunya adalah sikap
artis/band indie tersebut ketika mulai dikenal secara luas. Mereka
harus lebih bijak dalam menjaga pakem agar karakternya tidak terseret
menjadi pasaran atau kacangan.

Bisa
dibilang indie yang ideal adalah indie yang ekslusif. Parameter
tersebut adalah RCA yang mengacu pada subkultur indiepop itu sendiri.
Singkatnya indie adalah etos cutting edge, avant garde atau budaya
kreatif yang menjadi alternatif dari pola-pola musik pada umumnya.

Seiring
perkembangan corak musik, indiepop masa kini secara musikal memang
tidak lagi sarat dengan punk. Namun etos punk masih dan akan selalu
dianut olah para musisi indiepop di belahan dunia manapun. Dengan musik
yang sangat catchy dan selling, sebenarnya banyak band indiepop yang
berpeluang besar untuk menjadi artis jutaan kopi dengan menawarkan demo
ke major label. Namun mereka tidak melakukan itu karena orientasi
mereka bukan sekadar popularitas dan kemewahan, namun lebih kepada
kepuasan personal dan idealisme dalam berkarya. Bahkan ada yang menolak
tawaran manggung hanya karena skala pentas dan panggungnya terlalu
besar.

Sikap semacam itu pun banyak ditunjukkan band indiepop
lainnya dengan menjaga jarak dengan pers umum. Inilah contoh sikap punk
yang berbeda dari stereotipe artis mainstream. Musisi lokal yang memang
ingin menjadi indie seharusnya banyak belajar dari situ sehingga mereka
tidak menjadi popstar wannabe yang terobsesi gemerlap popularitas
secara mainstream. Kurt Cobain bisa jadi contoh ideal sebagai figur
musisi indie karena dia malah depresi saat musiknya kian terkenal dan
pasaran. Indiepop mengajarkan pada kita bahwa pop tidak diukur dari
sebarapa banyak rekaman yang terjual atau seberapa banyak penggemarnya.
Ketika industri mainstream menganggap musik yang bagus harus
dilegitimasi oleh hype/trend massal dan dominasi chart, indiepop secara
murni menghargai musisi dari musiknya, bukan dari popularitas. Indiepop
juga meyakini bahwa pop tidak harus masuk Top 40 atau diliput media
mainstream. Pop dalam konteks indiepop adalah cita rasa berbalut sikap
menentang mainstream.

Kurang lebih 10 tahun sudah indiepop eksis di Indonesia
sebagai sebuah genre dan kultur tandingan; setipe dengan metal, punk
maupun hardcore bersama fanzine-nya yang telah berkembang lebih dahulu.
Bandung dan Jakarta adalah dua kota yang menjadi sentra kemunculan dan berkembangnya indiepop di negeri kita. Dari sana baru beberapa tahun kemudian indiepop mulai menyebar sampai ke Jogja, Surabaya, Semarang, bahkan hingga kota kecil seperti Purwokerto, Malang, Bogor, Salatiga, dst.

Beberapa tahun kemudian, Jakarta
semakin berkembang dengan lahirnya generasi baru yang tidak sekadar
terpengaruh britpop, melainkan varian yang lebih progresif (twee,
jangle, bliss, folk, dsb.). Blossom Diary, Santa Monica,
The Sweaters, Sugarstar, C’Mon Lennon, Ballads of the Cliché,
Belladonna, dan The Sastro adalah sekian dari banyak penerus kultur
indiepop saat ini. Jangkauan mereka pun makin mendunia dengan
dirilisnya karya mereka oleh berbagai label indiepop di luar negeri.
Perkembangan indiepop di Jakarta juga ditunjang oleh maraknya komunitas yang tersebar di hampir seluruh penjuru Ibu kota seperti Balai Pustaka, Senayan Street, dsb. Berkat pergerakan semacam itulah scene Jakarta mampu terus berkembang melalui regenerasinya yang sangat dinamis. Begitu pula dengan perkembangan scene musik di Bandung dan Jogja.

Dalam
skala global, indiepop telah berkembang menjadi jaringan kerja antar
bangsa yang memungkinkan terjadinya rotasi untuk saling merilis rekaman
di negara masing-masing. Mereka bisa saling berkomunikasi dengan baik
karena idealisme mereka terhadap indie sama-sama merujuk kepada
pemahaman internasional,. Jaringan ini akan semakin solid dengan
munculnya generasi baru yang tumbuh dengan idealisme mengakar dalam
jiwa mereka, yaitu spirit independensi untuk selalu menjadi
counter-culture terhadap musik mainstream, resistensi pada tren atau
selera awam, dan idealisme self-sustain/self-indulgement yang menjadi
karakter eksistensinya, seperti kawan-kawan mereka di negara lain di
seluruh belahan dunia.

Semoga wacana ini bisa menjadi pengantar
bagi kamu yang ingin lebih mendalami musik indie. Mulailah dengan
memahami bahwa independen belum tentu indie dan indie belum tentu
independen (secara label). Dari situ niscaya kamu akan memperoleh
pencerahan untuk menyadari bahwa selama ini “indie” yang dimanipulasi
secara mainstream adalah suatu pembodohan. Jadi kalau ada band pop
non-major label yang musiknya setipe Colpdlay atau Nidji dan mereka
mengklaim dirinya “indie”, berarti kamu sedang dibodohi.

Minggu yang sama untuk kesekian kalinya……

Posted on Desember 28th, 2008 in Daily by syubidubabpap

Hari ini, minggu menjelang tutup tahun….

hari minggu yang sama dengan yang telah aku lewati sebelumnya. (Menjelang tutup tahun mau gak mau jadi duet mawud di kantor coz orang-orang pada cuti natal n taon baru leh……)

Minggu yang sehariannya dihabiskan di kantor (posisinya berada di tengah hutan daerah hulu makaham…hmmmmm)

Minggu yang untuk kesekian kalinya aku tidak dapat menghadiri semua hari-hari penting keluarga dan teman-temanku. Hari-hari penting tamn dan family terlewatkan begitu saja…..(untuk minggu ini saja aku tidak dapat menghadiri pernikahan bandmate, almamater mate, n pernikahan salah satu sepupu terdekat ku.)
Minggu yang tidak dapat dilewati dengan bersantai dan meluangkan waktu dengan hobi-hobi yang sudah hampir aku tinggalin.

Sudah menjadi konsekuensi kali ya kalo bekerja di minning coal project yang operasinya nonstop 24 jam……

Tapi mo gimana lagi….???!!! hidup itu indah walau sesakit dan sesenang  apapun eui…

I hope some day, I’ll have that I want…. I hope so…. Amieen…